Agentic AI vs Generative AI: Mengapa Tim HR Anda Membutuhkan 'Partner' Bukan Sekadar 'Penulis'?
Mahada Panji
8 Januari 2026
6 menit baca
Agentic AI vs Generative AI: Mengapa Tim HR Anda Membutuhkan 'Partner' Bukan Sekadar 'Penulis'?
Bayangkan Anda memiliki dua asisten baru. Asisten pertama sangat pintar menyusun kata-kata: ia bisa menulis email penolakan yang sangat sopan atau membuat deskripsi pekerjaan yang puitis. Namun, saat diminta memilih kandidat terbaik dari 1.000 CV, ia mulai menebak-nebak. Asisten kedua, sebaliknya, mampu membaca CV, memahami logika di balik pengalaman kerja kandidat, dan memberikan alasan logis mengapa kandidat tersebut cocok untuk tim Anda. Di tahun 2026, perbedaan ini dikenal sebagai "Generative AI" versus "Agentic AI".
Banyak HR merasa cukup dengan ChatGPT, padahal untuk rekrutmen skalabilitas tinggi, Anda membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar "penulis teks".
Generative AI: Si Ahli Bahasa yang Kreatif
Generative AI berfokus pada pembuatan konten baru—teks, gambar, atau kode—berdasarkan pola yang dipelajarinya, namun ia seringkali kekurangan kemampuan "penalaran aktif" untuk menyelesaikan tugas yang berurutan. Dalam HR, ia sangat berguna untuk membuat draf kebijakan atau memperbaiki tata bahasa pada iklan lowongan.
Apakah Anda pernah merasa jawaban ChatGPT terkadang terdengar benar tapi isinya "kosong" atau generalis? Itu karena ia memprediksi kata berikutnya, bukan memahami masalah bisnis Anda secara mendalam.
Expert Tip: Gunakan Generative AI untuk tugas-tugas administratif ringan, namun berhati-hatilah saat menggunakannya untuk penilaian kandidat karena risiko "halusinasi" data tetap ada.
Agentic AI: Mesin Penalaran yang Berorientasi Tugas
Agentic AI adalah sistem yang tidak hanya menghasilkan teks, tetapi memiliki kapasitas untuk merencanakan, bernalar, dan bertindak secara otonom untuk mencapai tujuan spesifik. Ia memahami goal (misal: "Cari developer yang bisa scaling sistem") dan membedah CV berdasarkan logika arsitektur sistem, bukan sekadar mencari kata kunci "Scaling".
Rhetorical Question: Di tengah banjirnya "CV hasil buatan AI", bukankah Anda membutuhkan AI yang jauh lebih cerdas untuk mendeteksi mana kemampuan yang asli dan mana yang sekadar polesan kata-kata?
✅ Agentic AI (Goal-Oriented)
"Menganalisis riwayat kerja kandidat, mendeteksi peningkatan tanggung jawab, dan memvalidasi skill teknis melalui portofolio digital secara otonom."
❌ Generative AI (Pattern-Based)
"Menulis ulang isi CV kandidat agar terdengar lebih profesional tanpa benar-benar memverifikasi kualitas pengalaman kerjanya."
Rekrutmen 2026: Perbandingan Kemampuan AI
Kemampuan
Generative AI (LLM Dasar)
Agentic AI (Pilah CV)
Keuntungan bagi HR
Parsing CV
Ekstraksi Teks Dasar
Kontekstual & Deep-Reasoning
Akurasi Data 95%+
Shortlisting
Berbasis Keyword
Berbasis Kelayakan Bisnis
Kandidat Jauh Lebih Relevan
Objektivitas
Bergantung pada Prompt
Standar Etik Terprogram
Mengurangi Bias Tak Sengaja
Actionability
Hanya Memberi Teks
Memberikan Opsi Keputusan
Menghemat Jam Kerja Manager
Mengapa HR Membutuhkan "AI Reasoning" di Tahun 2026?
Sistem dengan AI Reasoning mampu menjelaskan proses berpikirnya—menyediakan transparansi yang dibutuhkan HR untuk mempertanggungjawabkan setiap keputusan kandidat kepada manajemen atau regulasi. Ini adalah kunci kepercayaan antara manusia dan mesin dalam dunia kerja yang semakin otomatis.
Pernahkah Anda bertanya-tanya, "Kenapa asisten AI saya menyarankan orang ini?". Agentic AI akan menjawab: "Karena ia memiliki pengalaman migrasi yang identik dengan proyek yang Anda hadapi bulan depan."
Sudut Pandang TalentScreenr: Kekuatan Agentic AI yang Nyata
TalentScreenr melampaui Generative AI biasa dengan mengimplementasikan lapisan penalaran (Reasoning Layer) yang memahami konteks industri di Indonesia secara spesifik. Kami tidak hanya memproses kata-kata; kami memproses kompetensi.
Dengan TalentScreenr, Anda mendapatkan asisten yang:
Menemukan kandidat relevan meskipun bahasa CV-nya tidak standar.
Memberikan ringkasan alasan kecocokan yang logis dan objektif.
Bergerak secara proaktif untuk menyortir lamat-laman yang masuk setiap detiknya.
Kesimpulan: Pilihlah Partner, Bukan Sekadar Alat
Dunia rekrutmen sudah terlalu bising dengan alat yang hanya bisa menulis. Saatnya beralih ke teknologi yang bisa membantu Anda berpikir dan memutuskan.